Sabtu, 25 Juni 2011

Kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-laki harus memiliki porsi beban dan peluang yang sama dalam segala aktivitas?, (Setuju atau tidak?)


Gender memiliki banyak sekali implikasi dalam kehidupan manusia, tapi yang menjadi paling berpengaruh adalah gender menjadi fondasi ketidaksetaraan antar personal (Ridgeway, 2011). Kesetaraan bagi setiap orang barangkali memiliki pemaknaan yang berbeda-beda, namun kesetaraan secara universal mengacu pada hak setiap individu untuk berpikir dengan bebas, dapat menemukan makna, menentukan pilihan dan tujuan hidupnya sendiri. Berbicara mengenai kesetaraan, menurut saya pribadi, bukan porsi beban yang sama antara laki-laki dan perempuan lah yang dapat menciptakan kesetaraan gender, tapi saya lebih setuju jika laki-laki dan perempuan diberikan peluang yang sama dalam mengakses suatu aktivitas. Pendapat saya ini berdasar kepada asumsi bahwa gender adalah sebuah variabel sosiokultural yang didalamnya ada seperangkat asumsi yang menentukan bagaimana laki-laki dan perempuan berperilaku (Browne, 2007), sehingga porsi beban (yang notabene mengacu kepada kekuatan fisik biologis) tidak dapat dijadikan indikator kesetaraan, walaupun begitu wanita tetap berhak memilih kegiatan yang diinginkannya walaupun itu adalah pekerjaan yang berat. Kemudian kesetaraan gender tidak seharusnya didefinisikan secara sempit, bukan laki-laki harus bisa menjadi perempuan, kemudian perempuan harus bisa menjadi laki-laki, karena kesetaraan tidak membentuk individu menjadi sebuah figur artifisial.

Budaya masyarakat kita saat ini adalah budaya yang diciptakan oleh laki-laki, dimana laki-laki yang menjadi pengambil keputusan dalam berbagai kesempatan (Browne, 2007). Sejarah pembedaan antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, penguatan dan konstruksi sosiokultural, keagamaan bahkan melalui kekuasaan negara. melalui proses yang panjang, gender lambat laun menjadi seolah-olah kodrat Tuhan atau ketentuan biologis yang tidak dapat dirubah lagi (Apriani, 2008). Menurut Budiman Arif (1981, dikutip dalam Soputan, 2007), pembagian kerja secara seksual menempatkan perempuan berada dalam sektor domestik atau disekitar rumah tangga, dengan tugas utamanya pengasuhan anak dan melayani suami. Sedangkan laki-laki berada pada sektor publik untuk mencari nafkah bagi keluarga. Yang kemudian hal tersebut diinternalisasikan secara terus menerus dari generasi ke generasi. Hal itu berdampak pada tertutupnya peluang bagi wanita untuk ikut serta dalam aktivitas-aktivitas diluar ranah tradisional mereka sebagai wanita. Tentunya keikutsertaan wanita dalam ranah public bukan serta-merta memberikan mereka porsi beban kerja yang sama, tapi lebih kepada memberikan peluang yang sama dengan cara membuka akses kepada wanita untuk melakukan apa yang mereka inginkan, bisa itu dalam hal pendidikan, karir, ataupun politik. Ini berarti menghargai apapun profesi perempuan, apakah ia seorang Ibu rumah tangga maupun perempuan pekerja, dengan kata lain tidak melakukan penilaian sepihak atas pilihan-pilihan para individu tersebut, yaitu dengan tidak menentukan sosok yang mana yang merupakan perempuan yang ideal, tetapi memberikan kesempatan dan menghargai pilihan yang diambil individu tersebut.

Kesetaraan gender bukanlah pemberian hak dan kewajiban yang sama persis antara laki-laki dan perempuan tanpa ada pengecualian. Tapi lebih kepada bagaimana mengoptimalkan fungsi peran dalam hak dan kewajiban tersebut secara optimal, sesuai dengan gendernya masing-masing tanpa menutup kemungkinan terjadinya pertukaran peran jika memang diperlukan, karena konsep gender bukanlah sesuatu yang absolut, banyak negosiasi yang bisa dilakukan untuk sama-sama mendapatkan peran yang sesuai. Perempuan dan laki-laki memang berbeda, namun sejatinya mereka memiliki kedudukan yang sejajar, tidak ada yang lebih tinggi tidak ada yang lebih rendah, karena hubungan diantara keduanya adalah komplementer satu dengan lainnya. Masing-masing dari mereka bisa berperan secara optimal dalam ranahnya sendiri tanpa harus menjadi sesuatu yang bukan dirinya, sebab ada suatu garis fundamental yang terlampau sulit untuk dilalui keduanya. Tetapi untuk menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya terkadang membutuhkan sikap yang memberontak, ketika eksistensinya menuntut untuk melalui garis itu.

Sebenarnya akan sangat ironis apabila kita menganggap bahwa kesetaraan semata-mata akan tercapai bila laki-laki dan perempuan melakukan peran dan aktivitas yang sama, karena itu sama saja dengan menarik perempuan ketempat dimana mereka harus mau menanggung beban berat yang biasa ditanggung laki-laki. Dalam gender terdapat dua karakter utama, yaitu feminis dan maskulin, dalam dua karakter gender tersebut terkandung sifat-sifat yang menjadi pembawaan individu, memaksakan perempuan dengan karakter feminis untuk masuk ke ranah maskulin sana saja dengan mengeksploitasi mereka. Yang disebut dengan kesetaraan bukanlah seperti itu, tetapi dengan membuka kesempatan seluas-luasnya agar kedua gender tersebut diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mampu bekarya dan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai perannya secara optimal tanpa ada intervensi dari masing-masing gender kepada gender lainnya, dengan kata lain memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk perempuan dan laki-laki agar mampu berkarya dan melaksanakan hak serta kewajiban dengan lebih baik lagi, tanpa ada yang didiskriminasi.

Saat ini dalam beberapa bidang pekerjaan memang dikhusukan untuk gender tertentu dengan alasan-alasan tertentu. Hal tersebut tidak dapat semata-mata dijadikan acuan bagi sebuah gender untuk dapat melakukan monopoli terhadap pekerjaan tersebut. Ketika struktur dan prosedur yang berlaku menggambarkan kerja dari stereotip gender, mereka secara tidak langsung telah menjadi agen bias gender di tempat kerja mereka sendiri. Bingkai gender diberdayakan untuk menjadi aturan budaya yang digunakan untuk menafsirkan bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan. (P. Martin 1996 dalam Cecilia 2011), dengan demikian hal ini menyebabkan bagaimana laki-laki dan perempuan aktivitasnya dibatasi oleh tempat kerja dan berpotensi menciptakan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Tidak dapat dipungkiri, dalam dunia ini ada perbedaan karakteristik antara laki-laki dan perempuan, namun hal tersebut tidak dapat menjadi tolak ukur baik buruknya seseorang dalam sebuah pekerjaan atau aktivitas. Kekhasan yang dimiliki masing-masing gender bukanlah indikator untuk menilai karakteristik mana yang lebih baik dan mana yang buruk, bukan untuk memilih jenis kelamin mana yang lebih hebat dalam bekerjanya, Namun feminin dan maskulin merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, yang mana sebuah hal yang baik dapat muncul akibat dari keseimbangan diantara keduanya. Optimalisasi peran gender akan dapat terwujud ketika seseorang dinilai bukan karena jenis kelamin dan stereotipe yang melekat kepadanya, namun karena kompetensinya. Seorang perempuan melakukan suatu pekerjaan bukan karena ia perempuan atau laki-laki, tapi karena ia memang manusia yang kompeten.

Pada akhirnya, untuk mencapai sebuah kesetaraan bukanlah dengan cara memberikan beban yang sama antara laki-laki dan perempuan, tapi dengan cara membuka peluang tanpa ada intervensi pihak manapun kepada salah satu gender untuk mengaktualisasikan dirinya. Kesetaraan bukanlah menyamaratakan laki-laki dan perempuan, tapi merupakan mensejajarkan posisi laki-laki dan perempuan. Itu berarti ukuran sebuah pekerjaan tidak dapat dilihat dari tingkat kesulitan atau materi yang didapat, karena pekerjaan yang dilakukan sesuai peran baik itu perempuan maupun laki-laki nilainya adalah sama. Karena sejatinya apapun yang dilakukan, keduanya saling melengkapi, peran perempuan yang berada di sektor domestik sejajar dengan laki-laki, dan ketika mereka ingin keluar dan berkecimpung di sektor publik jangan pula dihalangi, karena wanita pun perlu mengaktualisasikan dirinya, tentunya dengan karakteristik feminisnya (kalaupun karakter yamg dipilihnya maskulin tidak menjadi masalah, karena itu hak asasi tiap individu). Tetapi tentunya pencapaian ini harus tetap diikuti dengan kesadaran bahwa tetap ada konsekuensi yang akan mengikuti, misalnya berubahnya pola pengelolaan rumah tangga, maka dari itu hendaknya kesetaraan gender dilihat bukan lagi sebagai sebuah bentuk kompetisi antara laki-laki dan perempuan, tapi harus dilihat sebagai sebuah hubungan partnership yang saling memahami dan mengisi satu sama lain serta saling bertanggung jawab. Sehingga tidak ada yang merasa menjadi dominan dan tersubordinasi, tetapi saling memberikan yang optimal sesuai perannya masing-masing.

Referensi:

Apriani, Fajar. 2008. Berbagai pandangan mengenai gender dan feminisme dalam Jurnal sosial

politika. Seksi Penerbitan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Mulawarman. Hal. 115-130.

Browne, Jude. 2007. The Future of Gender. Cambridge: Cambridge University Press.

Ridgeway, L. Cecillia. 2011. Framed by Gender: How Gender Inequality Persist in the Modern

World. New York: Oxford University Press.

Soputan, Grace Jenny. 2007. Aspirasi perempuan bekerja: hubungan kekuasaan perempuan dan

laki-laki dalam sektor informal Dalam Jurnal ekonomi dan manajemen Universitas

Udayana. Hal 17-24.




Nopi Fajar Prasetyo

Mahasiswa Antropologi

Universitas Padjadjaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar